Jawaban Kepala Dinas Terkait Kelangkaan Pupuk Subsidi Di Sulsel

pupuk
Asdar Akbar bersama Andi Ardin

Polemik kelangkaan pupuk subsidi saat ini kian santer terdengar, khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Hal serupa terjadi di media sosial facebook. Pembahasan terkait kelangkaan pupuk bersubsidi di media sosial terjadi hampir setiap hari dibeberapa percakapan grup facebook.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, DR. Ir. Andi Ardin Tjatjo, MP saat ditemui diruang kerjanya baru-baru ini mengungkapkan bahwa pupuk subsidi tidak langka, melainkan kuota subsidi yang terbatas.

Menurutnya, pemerintah menyediakan pupuk sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan alokasi anggaran sesuai luas baku lahan sawah yang ditetapkan Kementerian ATR/BPN.

“Untuk pupuk non subsidi stoknya tersedia, sedangkan pupuk subsidi dari tahun 2019 ke 2020 itu berkurang 30 persen, begitupun di tahun 2021 ini berkurang lagi 10 persen dari kuota sebelumnya,” bebernya.

Selanjutnya kata Andi Ardin, untuk tahun 2021 ini, pada musim tanam pertama, pupuk subsidi sudah terdistribusi ke semua kabupaten, hanya saja dengan jatah pupuk subsidi yang ada dengan luas sawah di Sulsel mencapai 654 ribu hektar yang terdiri 400 ribu sawah irigasi dan 254 ribu tadah hujan jika dibandingkan dengan kuota pupuk subsidi hanya cukup untuk satu kali musim tanam saja.

“Cuman ada memang yang tanam dua kali sehingga luas tanam kita itu mencapai hampir 1,2 jt hektar. Sehingga untuk urea saja dengan kuota 624 ribu itu hanya bisa menanam sekali. Jadi tanam kedua kita sudah kekurangan, sebenarnya bukan pupuk yang langka tetapi jatahnya memang yang habis di musim tanam kedua”, jelasnya.

Meski begitu, untuk pupuk subsidi, pihaknya tetap berusaha untuk mendapatkan kuota tambahan pada musim tanam kedua tahun ini. Pasalnya, khusus pupuk urea saja, kuota hanya 320 ton, dengan angka itu hanya cukup digunakan pada musim tanam satu dengan luas lahan 654 ribu hektar.

“Padahal total tanam kita kan menjadi 1,2 jt hektar karena ada yang dua kali tanam, jadi bukan pupuknya langka tapi kuota yang kurang. Kemudian, kuota pupuk subsidi menjadi langka karena petani umum maunya subsidi terus, kalau pupuk non subsidi tersedia, cuman yang mereka katakan pupuk itu yang subsidi,” pungkasnya.